Jumaat, 5 November 2010

BeBerapa Kesalahan yg Sering Terjadi di Musim Haji

Penulis Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.
Syariah Kajian Utama 19 - Desember - 2006 20:09:29

Perjalanan suci menuju Baitullah membutuhkan bekal yg cukup. Di samping bekal harta ilmu pun merupakan bekal yg mutlak dibutuhkan. Karena dgn ilmu seseorang akan terbimbing dlm melakukan ibadah haji sesuai dgn tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu akan terhindar dari berbagai macam bid’ah dan kesalahan sehingga haji pun sebagai haji mabrur yg tiada balasan bagi kecuali Al-Jannah.
Berangkat dari harapan mulia inilah nampak penting sekali utk diangkat berbagai kesalahan atau bid’ah yg sekira dapat menghalangi seseorang utk meraih predikat haji mabrur. Di antara kesalahan-kesalahan itu adl sebagai berikut:

Beberapa Kesalahan Sebelum Berangkat Haji
1. Mengadakan acara pesta dgn diiringi bacaan doa atau pun shalawat tertentu. Bahkan terkadang dgn iringan musik tertentu. Perbuatan semacam ini tdk ada contoh dlm kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
2. Mengiringi keberangkatan jamaah haji dgn adzan atau pun musik.
3. Mengharuskan diri berziarah ke kubur sanak-famili dan orang2 shalih.
4. Keyakinan bahwasa calon jamaah haji itu selalu diiringi malaikat sepekan sebelum keberangkatan sehingga doa mustajab.
5. Kepergian wanita ke Baitullah tanpa disertai mahramnya. Atau melakukan apa yg diistilahkan dgn ‘persaudaraan nisbi/semu’ yaitu menjadikan seorang jamaah haji pria sebagai mahram bagi si wanita dlm perjalanan haji yg kemudian dapat bermuamalah sebagaimana layak dgn mahram sendiri. Demikian pula ‘nikah nisbi/semu’ yaitu dinikahkan seorang calon jamaah haji wanita dgn calon jamaah haji pria yg kemudian kedua dapat bermuamalah sebagaimana layak suami-isteri. Tentu yg demikian ini adl kemungkaran yg tdk diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
6. Melakukan perjalanan haji semata-mata bertujuan ingin ziarah ke makam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
7. Melakukan shalat dua rakaat ketika akan berangkat haji.
8. Bersalaman bahkan berpelukan dgn seseorang yg bukan mahram menjelang keberangkatan ke tanah suci.

Beberapa Kesalahan Ketika Berihram dan Bertalbiyah
1. Melewati miqat dlm keadaan tdk berihram. Hal ini sering terjadi pada sebagian jamaah haji Indonesia kelompok kedua yg melakukan perjalanan dari tanah air menuju Makkah. Mereka tdk berihram ketika melewati miqat dan baru berihram setiba di Jeddah. Padahal kota Jeddah bukanlah miqat menurut pendapat yg benar.
2. Bertalbiyah bersama-sama dgn dipimpin seseorang di antara mereka.
3. Selalu dlm keadaan menampakkan pundak kanan ketika berihram padahal yg demikian itu hanya disunnahkan pada thawaf qudum.
4. Meninggalkan bacaan talbiyah dan mengganti dgn tahlil dan takbir.

Beberapa Kesalahan Ketika Thawaf
1. Mengharuskan diri utk mandi sebelum berthawaf.
2. Melafadzkan niat thawaf.
3. Mengangkat kedua tangan saat berisyarat kepada Hajar Aswad seperti ketika takbiratul ihram dlm shalat.
4. Memulai putaran thawaf sebelum rukun Hajar Aswad.
5. Melakukan shalat tahiyyatul masjid sebelum thawaf.
6. Ha mengelilingi bangunan Ka’bah yg bersegi empat saja dan tdk mengelilingi Hijr.
7. Melakukan jalan cepat pada seluruh putaran thawaf padahal itu hanya dilakukan pada 3 putaran pertama dan itu pun khusus pada thawaf qudum saja.
8. Berdesak-desakan utk mencium Hajar Aswad yg terkadang sampai mendzalimi jamaah haji lainnya.
9. Mengusap-usap Hajar Aswad dlm rangka tabarruk dan berkeyakinan bahwa yg demikian itu dapat mendatangkan manfaat dan menolak bala.
10. Mencium dan mengusap-usap sebagian sudut Ka’bah atau keseluruhannya. Bahkan terkadang ada yg menarik-narik kiswah utk menyobek guna dijadikan jimat.
11. Membaca doa/dzikir khusus pada tiap putaran thawaf krn yg demikian itu tdk ada tuntunan dari baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
12. Berthawaf dlm keadaan bersedekap.
13. Keyakinan bahwasa barangsiapa mampu menggapai dinding atas dari pintu Ka’bah mk dia telah berhasil memegang Al-‘Urwatul Wutsqa yaitu: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.
14. Berdesak-desakan utk shalat di belakang maqam Ibrahim krn dapat mengganggu jamaah lain yg sedang melakukan thawaf. Padahal diperbolehkan bagi utk melakukan walaupun agak jauh di belakang maqam Ibrahim.
15. Lebih parah lagi bila shalat setelah thawaf tersebut dilakukan lbh dari 2 rakaat.
16. Berdiri dan berdoa bersama seusai thawaf dgn satu komando. Lebih tragis lagi manakala doa itu dibaca dgn suara yg amat keras dan mengganggu kekhusyukan ibadah jamaah haji lainnya.

Beberapa Kesalahan Ketika Melakukan Sa’i
1. Berwudhu’ terlebih dahulu sebelum bersa’i walaupun masih dlm keadaan suci.
2. Mengharuskan diri utk naik ke Bukit Shafa dan menyentuhkan badan ke dindingnya.
3. Mengangkat kedua tangan sebagaimana layak takbiratul ihram sambil bertakbir tiga kali ketika berada di atas Shafa dan Marwah.
4. Berlari-lari kecil pada seluruh putaran di antara Shafa dan Marwah. Padahal yg dituntunkan hanyalah ketika lewat di antara dua tanda hijau saja.
5. Melakukan shalat dua rakaat seusai sa’i.

Beberapa Kesalahan ketika di Arafah
1. Mengharuskan diri mandi utk menyambut hari Arafah.
2. Melakukan wuquf di Arafah pada tanggal 8 Dzul Hijjah dlm rangka ihtiyath atau krn ada keyakinan bahwa hari Arafah itu pada tanggal 8 Dzul Hijjah sebagaimana yg dilakukan oleh sebagian sekte sesat Syi’ah Rafidhah.
3. Melakukan wuquf di luar batas wilayah Arafah.
4. Meninggalkan pembicaraan dan meninggalkan doa.
5. Masuk ke dlm kubah yg berada di atas Jabal Rahmah lalu shalat pada atau mengelilingi sebagaimana layak berthawaf di Ka’bah.
6. Berangkat dari Makkah ke Arafah sejak tanggal 8 Dzul Hijjah.
7. Keyakinan bahwa wuquf di Arafah pada Hari Jum’at merupakan haji akbar dan senilai dgn 72 kali haji.
8. Meninggalkan Arafah sebelum terbenam matahari tanggal 9 Dzul Hijjah.

Beberapa Kesalahan ketika di Muzdalifah
1. Tergesa-gesa saat beranjak dari Arafah menuju Muzdalifah.
2. Mengharuskan diri mandi utk menginap di Muzdalifah.
3. Tidak segera melaksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya saat tiba di Muzdalifah bahkan sibuk mengumpulkan batu-batu kerikil.
4. Tidak menginap di Muzdalifah tanpa ada udzur syar’i.
5. Mengisi malam dgn shalat malam dan dzikir. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan malam tersebut utk istirahat.

Beberapa Kesalahan ketika Melempar Jumrah
1. Mengharuskan diri utk mandi sebelum melempar jumrah.
2. Mencuci batu kerikil terlebih dahulu sebelum dilemparkan.
3. Melempar jumrah dgn menggunakan batu besar sepatu dan lain sebagainya.
4. Keyakinan bahwa melempar jumrah itu dlm rangka melempar setan. Sehingga tdk jarang dari sebagian jamaah haji yg melemparkan benda-benda yg ada di sekitar seperti sandal payung botol dsb agar lbh menyakitkan bagi setan.
5. Berdesak-desakan jamaah haji yg lain utk bisa melakukan pelemparan.
6. Melemparkan kerikil-kerikil tersebut secara sekaligus. Padahal yg dituntunkan oleh baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adl melemparkan satu demi satu sambil diiringi takbir.
7. Mewakilkan pelemparan kepada orang lain padahal ia mampu utk melakukannya.

Beberapa Kesalahan Ketika Menyembelih Hewan Kurban dan Bertahallul
1. Enggan utk menyembelih hewan kurban yg merupakan kewajiban utk haji Tamattu’- dan lbh memilih utk bershadaqah senilai harga hewan kurban tersebut.
2. Menyembelih hewan kurban utk haji tamattu’ di Makkah sebelum hari nahr .
3. Mencukur dari sebelah kiri atau menggundul/mencukur sebagian kepala saja bagi laki-laki.
4. Melakukan thawaf di seputar masjid yg berada di dekat tempat pelemparan jumrah.
5. Tidak melakukan sa’i setelah thawaf ifadhah dlm haji tamattu’.

Beberapa Kesalahan Ketika Thawaf Wada’
1. Meninggalkan Mina pada hari nafar sebelum melempar jumrah dan langsung melakukan thawaf wada’ kemudian kembali ke Mina utk melempar jumrah. Setelah itu mereka langsung pulang ke negara masing-masing. Padahal semesti thawaf wada’-lah yg merupakan penutup dari seluruh manasik haji.
2. Berjalan mundur seusai thawaf wada’ dgn anggapan sebagai tanda penghormatan terhadap Ka’bah.
3. Membaca doa-doa tertentu yg tdk ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “ucapan selamat tinggal” terhadap Ka’bah.

Beberapa Kesalahan ketika Berada di Kota Madinah
1. Meniatkan safar utk menziarahi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal niat yg benar adl dlm rangka mengunjungi Masjid Nabawi dan shalat di dalamnya.
2. Menitipkan pesan utk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui jamaah haji dan para penziarah agar disampaikan di kuburan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih aneh lagi disertai foto/KTP yg bersangkutan.
3. Ada praktik-praktik kesyirikan yg dilakukan di kuburan Nabi antara lain:
 Menyengaja shalat dgn menghadap ke kubur.
 Bertawassul atau meminta syafaat kepada beliau secara langsung.
 Mengusap-usap dinding kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam utk ngalap berkah yg tdk jarang disertai dgn tangisan histeris.
 Berdoa secara langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mencukupi kebutuhannya.
4. Meyakini bahwa ziarah ke kubur Nabi merupakan bagian dari manasik haji.
5. Keyakinan bahwa haji seseorang tidaklah sempurna tanpa menetap di Madinah selama 8 hari utk melakukan shalat wajib selama 40 waktu yg diistilahkan dgn “Arba’inan”1.

Beberapa Kesalahan Setiba Di Kampung Halaman
1. Memopulerkan gelar ’Pak Haji’ atau ‘Bu Haji’. Sampai-sampai ada yg marah/tersinggung bila tdk dipanggil dgn panggilan tersebut.
2. Merayakan dgn aneka pesta sambil diiringi shalawat Badar dan yg sejenisnya.
3. Meminta barakah kepada orang yg pulang haji dgn keyakinan bahwa para malaikat sedang mengelilinginya.

Sumber Bacaan:
1. At-Tahqiq wal-Idhah Lilkatsir Min Masa`ilil Hajji wal Umrah waz Ziyarah karya Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
2. Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Kama Rawaha ‘Anhu Jabir radhiyallahu ‘nhuma karya Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani.
3. Manasikul Hajji Wal ‘Umrah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
4. Al-Manhaj limuridil ‘Umrah wal Hajj karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
5. Shifat Hajjatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu.
6. Dalilul Haajji wal Mu’tamir wa Zaairi Masjidr Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Majmu’ah minal Ulama’ terbitan Departemen Agama Saudi Arabia.
7. Mu’jamul Bida’ karya Asy-Syaikh Ra`id bin Shabri bin Abi Alfah.

1 Hal ini berdasarkan sebuah hadits:

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ وَبَرِيْءٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yg shalat di masjidku sebanyak empat puluh shalat tanpa ada satu pun yg terlewati mk ditetapkan baginya: bebas dari an-naar selamat dari adzab dan terlepas dari nifaq.”
Namun derajat hadits ini munkar . Hal itu dikarenakan tdk ada yg meriwayatkan kecuali seorang perawi yg bernama Nabith dan ia adl seorang yg majhul . Kemudian apa yg ia riwayatkan menyelisihi riwayat seluruh perawi hadits tersebut.

Sumber: www.asysyariah.com

Pengertian Haji Mabrur

Bersama Tabung Haji:

Oleh Zulkarnain Ali

TUNTUTAN ISLAM: Niat menunaikan haji mesti ikhlas bermula dari keluar rumah dan tidak boleh berniat selain daripada Allah.

Keikhlasan tunai ibadat perlu bermula dari rumah, tidak boleh riak

ISTILAH mabrur lebih mashyur di bibir masyarakat daripada mengetahui maknanya yang sebenar. Apakah yang dimaksudkan haji mabrur?

Ibn Kholawaih mentakrifkan al-Mabrur sebagai al-Maqbul iaitu diterima. Dan ada yang mengatakan sesuatu yang tidak bercampur dengan dosa. Kemudian, diabsahkan (tarjih) oleh Imam Nawawi dengan pendapat itu (tidak bercampur dosa).

Apabila merujuk kitab hadith yang muktabar seperti Sahih Bukhari, Imam Bukhari meletakkan bab yang khusus bertajuk ‘Kelebihan Haji Mabrur’, manakala Imam Muslim meletakkan perbincangan haji yang diterima di dalam bab ‘Iman kepada Allah Taala seafdal-afdal amalan’.

Ini berdasarkan dua riwayat utama, Abu Hurairah dan Aisyah Radiyallahu’anha iaitu:

Riwayat dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu:

“Ditanyakan kepada Baginda manakah amalan yang lebih afdal? Maka dijawabnya iman kepada Allah dan Rasulnya. Kemudian apa? Jihad di jalan Allah. Kemudian? Sabdanya: Haji yang mabrur (diterima).”

“Aku dengar Nabi bersabda: sesiapa yang menunaikan haji kerana Allah, kemudian tidak melakukan kerosakan dan tidak fasiq, maka dia akan kembali seolah-olah baru dilahirkan oleh ibunya (bersih daripada dosa-dosa)“.

Riwayat ‘Aisyah Radiyallahu’anha:

“Wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah seafdal-afdal amalan. Adakah kami perlu berjihad? Sabda baginda: Tidak, akan tetapi seafdal-afdal jihad ialah haji yang diterima (mabrur)“.

Bagaimana mencapai haji mabrur?

Secara umumnya, sebagai seorang yang taat kepada Allah dan Rasulnya yang ingin mencapai haji yang diterima di sisi Allah, hendaklah memenuhi kriteria berikut:

  • Hajinya hendaklah ikhlas semata-mata kerana Allah dan tidak riak (menunjuk-menunjuk).

Imam Nawawi ketika menafsirkan hadith di atas dengan berkata;

“Mabrur (diterima) adalah baik hajinya. Dikatakan al-mabrur juga ialah haji yang tidak bercampur dengan dosa. Ada yang mengatakan tidak riak pada hajinya.”

Niat menunaikan haji hendaklah ikhlas bermula dari keluar rumah dan tidak boleh berniat selain daripada Allah seperti perasaan riak iaitu menunjuk-nunjuk atau sebagainya yang membawa kepada kemurkaan Allah.

Malah, Rasulullah mengajar kita dengan doa yang telah thabit di dalam hadisnya, antaranya doa ketika bermusafir:

“Ya Allah, Engkaulah Empunya permusafiran ini, dan khalifah bagi (menjaga) keluarga (ku), aku berlindung dengan-Mu dari keburukan permusafiran, kekaburan penglihatan, keburukan pada harta dan keluarga“.

  • Semua perbelanjaan haji adalah berpunca daripada yang halal.

Di dalam Sahih Muslim ada hadith menyebut:

“Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima kecuali yang baik-baik dan sesungguhnya Allah menyuruh orang mukmin mengikut apa yang diperintahkan oleh para utusan Allah. Kemudian baginda membacakan ayat al-Quran.

“Wahai sekalian Rasul, makanlah daripada (makanan) yang baik-baik (halal) dan beramal soleh. Sesungguhnya aku tahu apa yang kamu lakukan. Kemudian Rasulullah membacakan lagi:

“Wahai orang yang beriman, makanlah dari (makanan) yang baik-baik (halal) dari apa yang kami rezekikan” (Surah al-Baqarah 172).

Kemudian disebut, seorang lelaki bermusafir menadah tangan ke langit seraya berkata ‘Ya Tuhanku’ sedangkan punca makanan dari yang haram, minuman punca yang haram, pakaiannya punca yang haram. Bagaimana ia boleh diterima?”.

  • Melakukan fardu haji sesuai dengan ditunjukkan oleh sunnah yang sahih.

Bermula dengan niat sehinggalah haji wada’ ditunjukkan oleh Baginda Rasulullah di dalam sunnahnya. Sebagai seorang Muslim yang sejati, kita wajar meneladani Baginda tanpa menambah ibadat yang tidak pernah dilakukan Baginda.
Melakukan ibadat haji sepenuhnya dengan taat tanpa mempertikaikannya.

Ali Radiyallahu’anh ketika ditanya perbuatannya mencium hajarul aswad, maka beliau menjawab “Kau hanya sebuah batu yang tidak mampu membawa mudarat dan faedah, kalau bukan kerana aku lihat Rasulullah mengucupnya, sudah aku tidak aku mengucupnya.” (Muttafaqun Alaih).

Ini jelas menunjukkan kita melakukan ibadat mengikut teladan yang ditunjukkan oleh Rasulullah tanpa menokok tambah berdasarkan akal semata-mata.

  • Selepas menunaikan haji, berusaha pula melakukan badal (ganti) haji ayah dan ibu yang tidak berkemampuan menunaikan Haji.

Ini sesuai dengan hadis:

“Ya Rasulullah, sesungguhnya emakku telah bernazar untuk menunaikan haji, tetapi tidak ditunaikan sehingga dia meninggal dunia, adakah aku perlu menunaikan hajinya? Sabda Rasulullah: Ya, tunaikanlah haji untuknya. Adakah kau lihat jika emakmu berhutang engkau akan membayarnya? Jawab wanita itu: Ya. Sabda Nabi: Begitu juga (hutang) kepada Allah. Malah kepada Allah lebih layak dilunaskan (hutangnya)“. (Sahih Bukhari No Hadith 1720, 6771).

Adakah Haji Mabrur menghapuskan dosa yang besar?

Imam al-Munzir antara yang berpendapat mengatakan bahawa haji yang diterima diampunkan sekali gus dosa yang besar mengikut mafhum hadis berikut;

“Sesiapa yang menunaikan haji, kemudian tidak melakukan maksiat/dosa dan tidak fasiq, kemudian dia kembali seolah-olah seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya (suci tanpa dosa).“

Akhir sekali, marilah kita bersama-sama mendalami sebenar inti pati fardu haji. Semoga kita tergolong di dalam golongan orang diterima hajinya di sisi Allah Ta’ala. Dan kembalinya kita ke tanah air dari Makkah biarlah berdasarkan hadis yang telah disebutkan;

“Sesiapa yang menunaikan haji, kemudian tidak melakukan maksiat/dosa dan tidak fasiq, kemudian dia kembali seolah-olah seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya (suci tanpa dosa)”.

INTI PATI

  • Niat menunaikan haji hendaklah ikhlas bermula dari keluar rumah dan tidak boleh berniat selain daripada Allah seperti perasaan riak iaitu menunjuk-nunjuk atau sebagainya yang membawa kepada kemurkaan Allah.
  • Melakukan fardu haji sesuai dengan ditunjukkan oleh sunnah yang sahih.
  • Semua perbelanjaan haji adalah berpunca daripada yang halal.
  • Melakukan ibadat haji sepenuhnya dengan taat tanpa mempertikaikannya.
  • Sesiapa yang menunaikan haji, kemudian tidak melakukan maksiat/dosa dan tidak fasiq, kemudian dia kembali seolah-olah seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya (suci tanpa dosa).

- Penulis adalah Pengurus (Hal Ehwal Haji Antarabangsa), Lembaga Tabung Haji.

Semoga Mendapat Haji Mabrur!

Allah SWT berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا

“Mengerjakan haji itu adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

Tafsir ayat:

Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata, “Sungguh telah banya hadits yang sampai kepada kita bahwa haji merupakan salah satu rukun Islam, tiang dan pilar-pilarnya, dan itu telah menjadi ijma’ kaum muslimin. Dan sesungguhnya bagi orang yang mampu wajib mengerjakannya sekali dalam seumur hidup.”

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu `anhu- ia berkata, “Rasulullah r berkhutbah di hadapan kami seraya berkata, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah kalian. Lalu seorang lelaki berdiri seraya berkata, ‘Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?’ Rasulullah r diam hingga lelaki itu mengulanginya tiga kali. Kemudian Rasulullah r bersabda, ‘Kalau aku katakana iya, maka itu telah menjadi wajib, namun kalian tidak akan mampu melaksanakannya.” (HR. Imam Ahmad).

Kedudukan Ibadah Haji Dalam Islam

Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang lima, dan salah satu kewajiban dalam Islam, berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ kaum Muslimin.
Allah SWT berfirman:

“…Mengerjakan haji itu adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (ke-wajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97)

Dan Nabi SAW bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ وَ حَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ

“Islam dibangun di atas lima perkara; bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang hak untuk disembah kecuali Allah, dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasul utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikian pula kaum muslimin telah sepakat akan kewajiban ibadah haji bagi mereka yang mampu, dan tiada seorangpun menyelisihi kesepakatan ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, I/364 dan Ibnu Qudamah 5/5)

Kewajiban Haji Hanya Sekali Seumur Hidup

Melaksanakan ibadah haji dan umrah diwajibkan hanya sekali seumur hidup bagi setiap orang yang telah memenuhi persyaratan di bawah ini:

· Muslim.

· Baligh.

· Berakal.

· Merdeka (bukan hamba sahaya).

· Memiliki kemampuan (istitha’ah).

Allah SWT berfirman:

“…Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…” (QS. Ali Imran: 97)

Dan Nabi SAW bersabda dalam sebuah khutbahnya, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kamu untuk melaksanakan haji, maka laksanakanlah haji!” Lalu seorang Sahabat berkata: “Apakah pada setiap tahun, ya Rasulullah?” Beliaupun diam hingga orang itu mengulangi pertanyaannya tiga kali. Kemudian beliau bersabda: “Seandainya aku mengatakan: ‘Ya’, niscaya akan menjadi wajib dan pasti kalian tidak akan mampu (melaksanakannya).” Selanjutnya beliau bersabda: “Biarkan aku, apa-apa yang kubiarkan bagimu, karena sesungguhnya orang-orang sebelummu telah dibinasakan hanya karena banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap Nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepadamu, maka kerjakanlah semampumu, dan jika aku melarangmu dari sesuatu, maka tinggalkanlah.”( HR. Muslim dan An-Nasa’i)

Perintah Untuk Segera Melaksanakan Haji

Bagi orang yang telah memiliki kemampuan dan memenuhi segala persyaratan, wajib untuk segera melaksanakan ibadah haji. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW:

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ الْمَرِيْضُ وَتَضِلُّ الضَالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ

“Barangsiapa hendak melaksanakan haji, hendaklah segera ia lakukan, karena terkadang seseorang itu sakit, binatang (kendaraannya) hilang, dan adanya suatu hajat yang menghalangi.” (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 2331)

Juga sabda beliau:

تَعَجَّلُوْا إِلَى الْحَجِّ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ

“Bersegeralah melaksanakan haji, karena sesungguhnya salah seorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan merintanginya.” ( HR. Ahmad dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwaa’ul Ghaliil, no. 990)

Keutamaan Ibadah Haji Dan Umrah

1. Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang paling utama, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ الله : أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: (إِيْمَانٌ بِاللهِ وَ رَسُوْلِهِ)، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: (الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ)، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: (حَجٌّ مَبْرُوْرٌ)

“Dari Abu Hurairah Ra. ia berkata: Rasulullah SAW ditanya: “Amal ibadah apakah yang paling utama?” Beliau bersabda: “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Dikatakan (kepadanya): “Kemudian apa?” Beliau bersabda: “Jihad di jalan Allah.” Dikatakan (kepadanya): “Kemudian apa?” Beliau bersabda: “Haji yang mabrur.” ( HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Ibadah haji sebagai penghapus dosa, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan ibadah haji dan dia tidak melakukan jima’ dan tidak pula melakukan perbuatan dosa, dia akan kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

3. Balasan bagi haji mabrur adalah Surga, berdasarkan sabda Nabi SAW:

الْعُمْرَِةُ إِلَى الْعُمْرِةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَ الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

“Umrah (yang pertama) kepada umrah yang berikutnya sebagai kaffarat (peng-hapus) bagi (dosa) yang dilakukan di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya, melainkan jannah.” ( HR. Malik, Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

4. Haji adalah jihad bagi para wanita dan setiap orang yang lemah, berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Dari Aisyah Ra ia berkata, aku bertutur: ‘Ya Rasulullah kami melihat bahwasanya berjihad adalah amal ibadah yang paling utama, apakah kami (para wanita) tidak berjihad? Maka beliau bersabda: ‘Bagi kalian (kaum wanita), jihad yang paling utama adalah haji mabrur’.”

5. Orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu Allah, dan permohonan mereka dikabulkan, berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Umar Ra, Nabi SAW bersabda:

“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia SWT memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun mengabulkan permohonan mereka.”

6. Keutamaan perjalanan haji, keutamaan orang yang mati dalam perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji, dan keutamaan orang yang mati dalam keadaan berihram (ditengah pelaksanaan ibadah haji dan/atau umrah). Semuanya termaktub dalam hadits-hadits dibawah ini:

Dari Abu Hurairah Ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa keluar dalam melaksanakan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang di jalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari Kiamat.” (Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaaid perawi hadits ini perawi kitab Ash-Shahih)

Makna “Haji Mabrur”

Dalam menjelaskan hadits:

وَ الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

“Dan haji mabrur itu tiada balasan baginya melainkan jannah.”

Imam An-Nawawi berkata: “(Makna) yang paling benar dan paling masyhur bagi kata ‘Al-Mabrur’ yaitu (ibadah haji) yang tidak dicemari oleh perbuatan dosa.”

Selanjutnya beliau mengatakan: “Ada juga orang yang mengartikannya dengan ‘Al-Maqbul’ yaitu haji yang diterima, dan di antara tanda terkabulnya adalah kondisinya (setelah kembali dari ibadah tersebut) menjadi lebih baik daripada sebelumnya, serta tidak mengulangi lagi perbuatan maksiat.”

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, berkata: “Haji mabrur yaitu haji yang tidak tercemar oleh perbuatan dosa sedikitpun.”

Selanjutnya beliau mengatakan: “Haji mabrur tidak akan terwujud kecuali jika terpelihara dari segala bentuk bid’ah dan hal-hal yang merupakan tradisi manusia, serta terlaksana dari hasil usaha yang halal, yang dengannya ia berupaya untuk menjalankan kewajiban agama dan melaksanakan perintah-perintah Allah Tabaaraka wa Ta’ala.”

Reference:

1. Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir.

2. Panduan Manasik Haji dan Umrah, Syaikh Muahammad Nasiruddin Al-Albani, Pustaka At-Tibyan.

3. www.almanhaj.or.id

Khamis, 4 November 2010

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH HAJI

Kumpulan pertama Jemaah Haji Malaysia 2009

Kami AJK surau al-Ridzuan Taman Dawani mengambil kesempatan untuk mengucapkan selamat menunaikan ibadah haji kepada HJ MALIK & ISTERI serta EN KASMAN & ISTERI bersama 28,000 jemaah haji Malaysia pada tahun ini yang akan melaksanakan ibadah tersebut di tanah suci Mekah.

Alhamdulillah, kumpulan seramai 16,082 jemaah haji ini telah berlepas ke tanah suci Mekah al Munawwarah. Bila tengok depa ni pegi, teringat masa kita dok pegi dulu. Suasana tak banyak berubah. Perasaan tenang dan bahagia sangat, nak mengunjungi bumi anbiya’.

Apa pun dalam keadaan sekarang, kami berdoa moga semua jemaah haji kita sentiasa menjaga kebersihan dan kesihatan depa dan semoga sentiasa mendapat perlindungan dari Allah SWT, moga-moga jemaah tu semua dijauhi dari sebarang musibah dan penyakit, terutamanya wabak H1N1.

Kita juga bersyukur, yang kerajaan sudah mengambil langkah awai dengan memberi suntikan tambahan influenza bermusim seperti yang telah diwajibkan oleh kerajaan Arab Saudi.

Semoga semua jemaah haji kita tabah dan banyak bersabaq dalam melaksanakan ibadah haji dan semoga depa semua dikurniakan dengan haji yang mabrur, insya-Allah.AMIN YA RABBAL ALAMIN

Israel Murka, UNESCO Putuskan Rachel's Tomb Milik Palestina


Israel hari Rabu kemarin (3/11) mengatakan bahwa mereka menangguhkan kerjasama dengan UNESCO sebagai bentuk protes atas pengakuan UNESCO terhadap masjid Bilal bin Rabah di Tepi Barat, yang oleh Israel situs tersebut merupakan makam tokoh yang ada dikitab suci, Rachel.

Wakil Menlu Israel Minter Dany Ayalon mengatakan kepada Knesset, parlemen Israel, bahwa organisasi kebudayaan PBB harus menarik "pengakuan" mereka atas situs suci itu sebagai masjid sebelum Israel melanjutkan kerjasama dengan UNESCO.

Israel menuduh UNESCO telah secara membabi buta mengadopsi terminologi Palestina modern dan politik Arab untuk menggambarkan situs tersebut - yang sampai pertengahan 1990-an telah dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Muslim hanya sebagai "Rachel's Tomb" - sebagai masjid Bilal bin Rabah.

Pernyataan itu, yang dilaporkan oleh radio militer Israel mengutip pernyataan Ayalon mengatakan, bahwa pengakuan UNESCO kontraproduktif untuk tercapainya perdamaian dan pengertian di antara kedua bangsa.

Dalam sesi dua tahunan pada akhir Oktober, dewan UNESCO mengadopsi lima proposal yang diprakarsai oleh negara-negara anggota Arab tentang tempat-tempat suci di Yerusalem Timur dan Tepi Barat.

Salah satunya adalah Rachel's Tomb di luar kota Tepi Barat selatan Betlehem.

Mengacu dalam pernyataan kepada struktur keduanya, masjid Bilal bin Rabah/ Rachel 's Tomb," dewan UNESCO melakukan pemungutan suara dengan skor 44-1, dengan 12 abstain, untuk menegaskan kembali situs itu merupakan bagian integral dari wilayah Palestina yang diduduki dan setiap tindakan unilateral oleh otoritas Israel dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional.

Sebelumnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu awal tahun ini memicu kemarahan dunia Arab ketika ia memasukkan tempat-tempat suci di wilayah yang diduduki dalam daftar warisan nasional budaya Israel dan Yahudi.

Dan Rachel's Tomb ada di daftar itu, sehingga mendorong negara anggota Liga Arab, termasuk Yordania, untuk mendorong keputusan dewan eksekutif UNESCO.

Israel mempertahankan kepemilikan mereka atas Rachel's Tomb yang secara tradisional disebut juga oleh umat Muslim sebagai "Qubat Rachel" dalam bahasa Arab, meskipun kompleks situs ini juga termasuk sebuah tempat ibadah umat Muslim dan berdekatan dengan sebuah kuburan Muslim.

Israel menuduh bahwa nama masjid "Bilal bin Rabah" muncul dan mulai digunakan menyusul adanya kerusuhan Arab-Israel pada tahun 1996 dan diciptakan oleh orang Palestina untuk alasan politik. (fq/mna)

1,5 Juta Lebih Jamaah Haji Sudah Memadati Tanah Suci


Gubernur Makkah Pangeran Khaled Al-Faisal berharap musim haji tahun ini tidak ada lagi jamaah haji yang terlantar dan bergerombol di tempat-tempat umum setelah pemerintah Saudi memperbaiki sejumlah kebijakan haji, termasuk kebijakan izin haji. Ia juga mengatakan bahwa pemerintah Saudi sudah melakukan antisipasi terjadinya banjir--seperti yang terjadi pada musim haji tahun lalu--agar para jamaah haji bisa melaksanakan ibadah hajinya dengan aman dan nyaman.

Gubernur Makkah mengungkapkan hal tersebut saat melakukan inspeksi ke terminal haji Bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Pangeran Al-Faisal bersama Gubernur Jeddah, Pangeran Mishaal bin Majid serta Menteri Urusan Haji Fuad Al-Farsy meninjau langsung pelayanan Bandara terhadap para jamaah haji. Saat ini, jumlah jamaah haji dari seluruh dunia yang sudah tiba di tanah suci melalui Bandara di Jeddah dan Madinah sudah mencapai 1,5 juta orang lebih.

Menurut Pangeran Faisal, untuk mengantisipasi terjadinya banjir, pihaknya sudah menyiagakan aparat dari kesatuan Pertahanan Sipil dan lembaga-lembaga terkait lainnya yang berkaitan dengan kelancaran dan pelaksanaan ibadah haji. Selain itu, kantor gubernur Makkah juga membentuk unit baru yang bertugas untuk mencegah terjadinya pemalsuan paspor di terminal-terminal kedatangan jamaah haji.

Selama musim haji, Otoritas Penerbangan Sipil Saudi sudah membuat rencana operasi penangangan jamaah haji sampai pelaksanaan ibadah haji selesai dan seluruh jamaah pulang kembali ke negara masing-masing. Menurut Presiden Otoritas, Abdullah Rehaimi, terminal haji yang mencakup tempat seluas 90.000 meter per segi mampu menerima sekitar 3.800 jamaah haji tiap jamnya.

Setelah melakukan inspeksi ke terminal haji di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Gubernur Makkah juga melakukan pemantauan ke Pelabuhan Jeddah dan menyambuh jamaah haji asal Sudan yang datang dengan kapal laut.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Saudi Dr. Abdullah Al-Rabeeah menggelar pertemuan dengan seluruh kepala departemen kesehatan Saudi. Pertemuan yang berlangsung di Riyadh itu membahas tentang kordinasi pelayanan kesehatan, karena banyak departemen pemerintahan yang menawarkan bantuan layanan kesehatan bagi para tamu Allah. Pertemuan itu juga membahas antisipasi penyakit menular selama musim haji. (ln/AN)

Isnin, 20 September 2010

Ziarah Kubur Dan Bersedih Pada Hari Raya?

sinar.jpg
Soalan : Dr Asri, selamat hari raya, walaupun banyak hari lagi. Soalan, biasanya setiap pagi hariraya saya dan keluarga akan ke kubur arwah ibu kami. Hubungan kami dahulu amat rapat. Apabila di kubur, saya akan cuba ingat memori lama dengan ibu dan saya akan menangis sepuasnya. Saya ceritakan perkara ini kepada kawan sepejabat saya. Dia kata tak baik bersedih pada hari raya. Dia pun ada mention nasihat Dr Asri supaya jangan sedih pada hari raya. Saya sudah lama terbiasa sedih pada hari raya. Rasanya kosong pula kalau tidak menangis pada hari raya. Boleh Dr Asri jelaskan sedikit panduan hari raya?

Ina, Johor

Jawapan Dr MAZA : Saudari Ina yang dihormati. Saya percaya saudari seorang yang sentiasa ingin mencari redha Allah dan RasulNYA, sebab itu saudari ingin memastikan hariraya saudari mengikut panduan yang betul. Saudari hariraya adalah hari yang dikhususkan kepada kita untuk bergembira, bukan untuk bersedih. Banyak perkara jika hendak disebutkan mengenai hari raya, namun dalam ruang yang terbatas ini saya jawab persoalan saudari seperti berikut:

1. Hari raya adalah hari membesarkan Allah dan bersyukur atas kurniaanNya. Kita bertakbir tanda kemenangan, bukan tanda kesedihan. Irama takbir ala melayu agak sedih. Jika kita dengar takbir yang dilaung di dunia Islam yang lain, khususnya di dunia Arab, kita akan tahu irama takbir mereka lebih bersemangat dan lebih mendekati perasaan kemenangan. Firman Allah:

“..dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan), dan supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjukNya, dan supaya kamu bersyukur”. (Surah al-Baqarah: 185).

Ayat ini menjelaskan tentang kedatangan hari raya sebagai tanda syukur atas nikmat kurniaan Allah. Maka kita disuruh bertakbir membesarkan Allah pada hari raya. Ini semua menzahirkan kejayaan dan kegembiraan.

2. Hari raya bukan hari menzahirkan suasana sedih, sebaliknya hari raya menzahirkan suasana kekuatan, kegembiraan dan perpaduan umat Islam. Kata Ummu Atiyyah r.aha:

“Rasulullah s.a.w memerintahkan kami (kaum wanita) keluar pada hari raya fitri dan adha; termasuk para gadis, wanita haid, anak dara sunti. Adapun mereka yang haid tidak menunaikan solat tetapi menyertai kebaikan dan seruan kaum muslimin” (Riwayat al-Bukhari).

Suasana sebegini menimbulkan perpaduan, kekuatan dan kegembiraan. Wanita haid pun ke suruh untuk keluar ke tempat solat, sekalipun bukan untuk solat tetapi untuk menyertai suasana kemeriahan kaum muslimin.

3. Justeru itu, Nabi s.a.w bersolat di tempat lapang atau musolla (tempat solat). Baginda tidak bersolat di masjid baginda, sekalipun masjid Nabi sangat mulia. Ini bagi menzahirkan suasana gembira dan menggambarkan kepada masyarakat kekuatan umat Islam. Kata Abu Sa’id al-Khudri:

“Rasulullah s.a.w itu pada Hariraya Fitri dan Adha keluar ke musolla. Perkara pertama yang dilakukannya adalah solat” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Kata al-Hafizd Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari:

“Musollah itu tempatnya diketahui di Madinah, di mana antaranya dan masjid sejauh seribu hasta”.

Maka afdal solat di tempat lapang untuk lebih menzahir suasana tersebut. Melainkan tempat lapang sukar didapati, atau hujan atau memberikan kesusahan yang lain kepada orangramai. Al-Imam al-Nawawi (wafat 676H) ketika mensyarahkan hadis Nabi s.a.w bersolat di tempat lapang itu menyebut:

“Hadis ini menjadi dalil untuk mereka yang berpendapat disunatkan keluar bersolat hari raya di musolla. Ia lebih afdal dari ditunaikan di masjid. Inilah amalan orangramai di pelbagai negara. Adapun orang Mekah, mereka sejak dahulu bersolat di masjid (al-Masjid al-Haram)”. (al-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 6/483. Beirut: Dar al-Khair).

4. Betapa suasana kegembiraan digalakkan pada hari raya, maka Nabi s.a.w mengizinkan atau menggalakkan hiburan seperti nyanyian, pertunjukan dan sukaria yang lain selagi tidak melanggar syariat. Dalam hadis daripada isteri Rasulullah s.a.w Ummul Mukminin ‘Aishah r.aha:

bahawa pada hari raya Fitri atau Adha, Abu Bakr masuk ke rumahnya (rumah ‘Aishah) dan Nabi s.a.w berada di sisinya. Ketika itu ada dua orang gadis sedang menyanyi mengenai kebanggaan Ansar pada Hari Bu‘ath (peperangan antara Aus dan Khazraj). Abu Bakr berkata: “Suara syaitan” (sebanyak dua kali). Nabi s.a.w bersabda: “Biarkan mereka wahai Abu Bakr! Setiap kaum ada hari raya dan sesungguh hari ini adalah hari raya kita” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Muslim yang lain menyatakan mereka memukul gendang sebagai alatan muzik iringan nyanyian mereka. Banyak hadis lain menunjukkan keizinan atau galakan hiburan pada hari-hari kegembiraan seperti hari raya, hari perkahwinan dan seumpamanya. Maka, dendangan lagu hari raya yang menimbulkan suasana kegembiraan adalah digalakkan. Adapun lagu-lagu yang menimbulkan kesedihan ia bertentangan dengan konsep hari raya dalam Islam.

5. Kata Ummul Mukminin ‘Aishah r.ha:

“Pada hari raya orang Sudan membuat pertunjukan permainan perisai dan lembing. Aku tidak pasti sama ada aku yang meminta, atau baginda yang berkata: “Apakah engkau ingin menontonnya?” Jawabku: “Ya”. Lalu baginda menjadikan aku berada belakangnya, pipiku menyentuh pipinya sambil baginda berkata: “Teruskan wahai Bani Arfidah (orang-orang Sudan)”. Sehinggalah aku jemu. Kemudian baginda berkata kepadaku: “Sudah cukupkah (jemukah)?”. Jawabku: “Ya”. Kata baginda: “Kalau begitu, pergilah”. (Riwayat al-Bukhari).

Hadis ini menunjukkan apa-apa pertunjukan, permainan atau gurau senda yang tidak melanggar syariat adalah digalakkan pada hari raya. Bukan satu kecacatan untuk orang yang kuat agama menyertainya, kerana Nabi s.a.w sendiri menonton pertunjukan pada hari raya.

6. Maka, jika berdasarkan kepada hadis-hadis di atas, hiburan kanak-kanak atau dewasa pada hari raya seperti permainan bunga api atau selainnya adalah tidak menyalahi syariat, bahkan digalakkan jika dapat menimbulkan kegembiraan. Begitu juga jamuan pada hari raya, duit raya, hadiah raya dan apa sahaja yang boleh menimbulkan suasana gembira. Namun kesemuanya hendaklah dipastikan dengan kadarnya yang tidak melampaui hukum-hakam syarak.

7. Menziarahi kubur itu pada asalnya disunatkan pada bila-bila masa bagi mengingatkan kita pada hari akhirat. Sabda Nabi s.a.w:

“Aku dahulu melarang kamu menziarahi kubur, namun ziarahi sekarang kerana ia boleh mengingatkan kamu pada hari akhirat” (Riwayat Muslim).

Pada peringkat awal Nabi s.a.w melarang kerana bimbang kesan jahiliah dahulu masih mempengaruhi masyarakat. Apabila kefahaman Islam sudah kukuh, baginda mengizinkan kerana ia membantu mengingatkan hari akhirat. Ertinya, jika sesiapa yang apabila ke kubur akan terpengaruh dengan amalan khurafat, maka mereka ia sepatutnya mengelakkan diri dari menziarahi kubur. Jika ia menyebabkan mengingatkan hari akhirat, maka ia digalakkan.

8. Walaupun menziarahi kubur itu pada asalnya sunat, namun baginda Nabi s.a.w tidak pernah mengkhususkan supaya diziarahi khubur pada hari raya. Perbuatan mengkhususkan hari raya sebagai hari ziarah kubur tidak bersumberkan dari ajaran Nabi s.a.w. Apatahlagi dengan pelbagai upacara yang menyanggahi sunnah Nabi s.a.w yang diadakan oleh sesetengah masyarakat di kubur pada hari raya. Bahkan, jika kita melihat kepada konsep hari raya yang diterangkan, maka perbuatan bersedihan di kubur adalah menyanggahi tujuan hari raya.

9. Pada hariraya disunatkan mandi, berwangian, berpakaian cantik dan berjumpa orang ramai. Dalam hadis Jabir r.a berkata:

“Rasulullah pada hari raya mengambil jalan yang berbeza” (Riwayat al-Bukhari).

Maksudnya, jalan pergi ke tempat dan pulang yang berbeza. Kemungkinan antara hikmahnya untuk berjumpa orang ramai. Maka, berjumpa orang ramai pada hari raya adalah digalakkan dan itu patut menjadi tumpuan, bukan pergi menemui yang telah meninggal dan bersedih di kubur.

10. Pertemuan pada hariraya bukan untuk mencurahkan airmata, tetapi untuk mengucapkan ucapan kejayaan. Para sahabah apabila bertemu pada hari raya mengucapkan TaqabbalaLlah minna wa minka (semoga Allah menerima amalan kami dan kamu)” (lihat: al-Albani, Tamam al-Minnah 354-356). Ucapan-ucapan lain tidak salah selagi mengandungi maksud yang baik dan bukan membawa kepada kesedihan dan kedukaan.

11. Maka, jadikanlah hariraya sebagai hari kegembiraan dan kesyukuran, bukan hari kesedihan.

Ahad, 19 September 2010

Beberapa Peristiwa di Bulan Syawal




Oleh: Atif Abdul Hadi

Pelbagai peristiwa besar telah berlaku di bulan Syawal. Kami akan bicarakan sebahagiannya sebagai langkah untuk mengenali sejarah kita dan membongkar sedikit daripada tamadun kita pada masa umat Islam jahil tentang sejarah dan tamadun dunia. Di antara peristiwa tersebut ialah:

Perang Khandak (Ghazwah Ahzab)

Pada tahun kelima Hijrah di bulan Syawal berlaku Perang Khandak. Faktornya berlaku Perang Khandak ialah orang-orang Yahudi setelah melihat kemenangan Musyrikin di dalam Perang Uhud mendorong pembesar Yahudi seperti Salam bin Ubai al-Haqiq dan lainnya telah keluar menemui pemimpin Quraisy di Mekah menggalakkan mereka untuk memerangi Rasulullah dan berjanji bersama mereka dan menolong mereka. Lalu musyrikin Mekah menyahut tawaran mereka. Kemudian mereka keluar menemui Ghatfan dan mereka turut menyahutnya. Kemudian mereka menemui kabilah-kabilah Arab dan mengajak mereka berperang. Setengah dari mereka bersetuju berperang.

Tentera Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan bersama 4000 tentera dan disertai oleh Bani Sulaim, Bani Asad,Bani Fazarah, Bani Asyja’ dan lainnya sehingga jumlah tentera musyrikin seramai 10,000 orang.

Justeru Rasulullah telah bermesyauarat dengan para sahabat bagi menghadapi situasi ini. Lalu Salman al-Farisi telah mencadangkan supaya menggali parit yang memisahkan antara musuh dan kota Madinah. Dengan itu Rasulullah saw telah memerintahkan kaum muslimin segera melakukan kerja-kerja penggalian. Bahkan baginda sendiri turut bekerja keras bersama-sama muslimin . Beberapa peristiwa luar biasa telah belaku semasa penggalian yang menunjukkan tanda kenabian seperti yang diriwayatkan secara mutawatir.

Rasulullah saw telah keluar ke Khandak seramai 3000 orang tentera. Kedudukan tentera Islam ketika itu menjadikan bukit di sebelah belakang dan parit di sebelah depan. Kaum wanita dan anak-anak berkumpul di Madinah.
Selepas sebulan Kota Madinah dikepung tentera musyrikin Allah telah mendatangkan pertolonganNya dengan mengutuskan tentera dan ribut yang menjadi sebab kemenangan yang besar kepada tentera muslimin. Dengan itu juga turun surah al-Al-Ahzab.

Ghazwah Uhud

Ghazwah Uhud adalah peperangan dhamir dan kemenangan ke atas jiwa, tarbiyah kelompok mukmin supaya dengar dan taat arahan pimpinan terutama di saat-saat genting.

Ghazwah Uhud berlaku pada bulan Syawal tahun ketiga Hijrah setelah Musyrikin Mekah hendak menuntut bela di atas kekalahan mereka semasa Ghazwah Badar al-Kubra setelah kedudukan mereka tercemar di serata Semenangjung Arab.

Terbukti dengan jelas di dalam gazwah ini pengorbanan para sahabat dan kecintaan mereka yang mendalam kepada Rasulullah saw.

Tentera muslimin ditimpa kekalahan ekoran pasukan pemanah melanggar arahan nabi saw supaya bertahan di bukit biar apa terjadi. Jumlah muslimin yang syahid seramai 70 orang sahabat.

Ghazwah Hunain

Peperangan ini tercetus pada 7 Syawal tahun ke lapan Hijrah yang tertumpu di Lembah Hunain iaitu suatu lembah bersebelahan Zul Majaz. Jarak dengan Mekah sejauh 27 km yang terletak berdekatan dengan Arafah. Bilangan tentera muslimin seramai 12000 orang yang menggabungkan 10000 dari Madinah dan 2000 dari Mekah.

Kejayaan Islam dalam Fathul Mekah telah mencetuskan kemarahan kabilah-kabilah Arab yang berdekatan Mekah. Lalu mereka bangkit memerangi Islam yang dipelopori Hawazin dan Thaqif. Para pemimpin kabilah-kabilah ini telah berkumpul dan bersetuju menyerahkan kepimpinan kepada Malik bin Auf Said dari kabilah Hawazin. Mereka juga bersetuju berjalan kaki untuk memerangi tentera muslimin.
Segelintir tentera muslimin timbul perasaan “ghurur” setelah melihat jumlah mereka lebih ramai dari sebelumnya dan kedudukan mereka lebih kuat dari musuh. Dalam hal ini Allah mengungkapkan dalam firmanNya:

“Sesungguhnya Allah Telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (Ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak Karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu Telah terasa sempit olehmu, Kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan Demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (At-Taubah: 25-26)

Dalam suasana berkecamuk akibat diserang hendap musuh yang bersembunyi di balik bukit menyebabkan ramai tentera Islam bertempiaran lari namun terbukti keteguhan dan keberanian nabi saw. Baginda maju ke hadapan.. mendekati barisan kuffar sambil memanggil dengan suara yang kuat: “Saya nabi bukan pendusta saya anak Abdul Mutalib”.

Kemudian datang pertolongan Allah dengan ribut dan tentera yang tidak kelihatan. Inilah kurniaan Allah kepada rasulNya dan para mukminin.

Kelahiran dan kewafatan Raja Adil Nurudin Mahmud Zanki

Menurut Ibn Athir tiada lagi selepas Umar bin abdul Aziz yang lebih adil seperti Raja Nurudin. Dia ialah Raja Adil Nurudin Abu al-Qasim Mahmud bin Raja Imaduddin Zanki raja Syam dan Mesir yang diberi gelaran Raja Adil. Baginda juga digelar dengan syahid kerana bercita-cita mati syahid. Baginda merupakan barisan raja dari keturunan Turki Saljuk yang juga raja yang paling adil, paling berketrampilan dan paling utama di zamannya. Baginda juga pemilik sekolah yang mengeluarkan Solahuddin al-Ayubi dan Zahid Peprus. Baliau lahir pada bulan 17 Syawal tahun 511H di Bandar Halab dan wafat pada 11 Syawal tahun 569H.

Ghazwah Bani Qainuqa’

Ghazwah ini tercetus pada 15 Syawal tahun 2 Hijrah setelah Yahudi Bani Qainuqa’ mengkhianati perjanjian yang telah dimeterai antara Rasulullah bersama mereka. Bahkan mereka dengan segera melanggar perjanjian dan bertambah marah dan iri hati dengan kemenangan muslimin di Badar . Kini secara terangan mereka memusuhi muslimin setelah berlaku satu peristiwa di mana seorang lelaki Yahudi (tukang emas) mengangkat hujung baju seorang wanita Islam di pasar Bani Qainuqa’. Bila wanita itu bangun maka terselaklah auratnya, lalu ia memekik. Seorang lelaki Islam bingkas menyerang lelaki Yahudi itu dan membunuhnya. Kemudian Yahudi-yahudi yang lain pula berkumpul dan menerkam lelaki Islam tadi dan membunuhnya. Lantas orang-orang Islam memanggil muslimin yang lain dan membangkitkan kemarahan muslimin lainnya sehingga berlaku pergaduhan antara orang Islam dan Bani Qainuqa’ . Rasulullah telah mengepung selama 15 malam bermula pada 15 Syawal tahun kedua Hijrah menurut pendapat yang kuat sehingga bulan Zulqaedah. Akhirnya mereka tunduk dengan hukuman dan keputusan Rasulullah saw iaitu seluruh harta, isteri dan anak-anak serta diri mereka hendaklah keluar meninggalkan Madinah. Lalu mereka telah menuju ke Azar’at di Syam. Yahudi Bani Qainuqa’ adalah Yahudi yang pertama menentang nabi saw. Ayat al-Quran telah turun mengecam perbuatan Bani Qainuqa’. Firman Allah:

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka jahannam. dan Itulah tempat yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang Telah bertemu (bertempur), segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”. (Ali-Imran: 12-13)

Kewafatan al-Hafiz Abu Daud As-Sajastani Sahib as-Sunan

Beliau ialah Sulaiman bin Al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir al-Azdi as-Sajastani seorang al-Hafiz dalam bidang hadith dan pengarang kitab Sunan “Sunan Abu Daud”. Beliau dilahirkan pada tahun 202 Hijrah. Beliau seorang pemaaf, baik hati dan warak. Di antara guru yang beliau hirup ilmu dan mengambil hadith ialah Imam Bukhari. Ada ulamak mengatakan tentangnya: “Lembutnya (berhati-hati) Abu Daud dalam meriwayatkan hadith seakan-akan Nabi Daud melembutkan besi”. Kitab beliau menunjukkan hal ini iaitu seakan-akan “besi”. Menurut al-Hafiz Az-Zahabi: “Imam Abu Daud seorang yang mengetahui selok belok dan keindahan di dalam hadith. Beliau merupakan di antara tokoh fuqaha’ yang pintar, bersahabat dengan Imam Ahmad, mengikuti pengajiannya untuk tempoh lama dan kerap bertanya soalan-soalan yang rencam berkaitan perkara furu’ dan usul.

Imam Abu Daud telah menghimpunkan hadith di dalam kitab Sunannya sebanyak 5274 hadith. Keprihatinan beliau terhadap kitab ini terbukti dengan mengumpulkan hadith-hadith yang sering dijadikan dalil oleh para fuqaha’ dan diulang-ulang di kalangan mereka. Ramai para ulamak dari satu zaman ke zaman yang lain menggunakan himpunan hadith di dalam kitab beliau sebagai sandaran hukum dan menamakan hadith-hadith ini sebagai hadith hukum.

Beliau wafat di Basrah pada hari jumaat 15 Syawal tahun 275H.

Kewafatan Syeikh Muhammad al-Ghazali

Beliau ialah al-Fadhil Prof. Muhammad al-Ghazali bin Ahmad as-Saqa al-Misri. Beliau merupakan seorang pemikir Islam terulung, pendakwah dan penulis. Lahir di daerah Buhairah di Mesir tahun 1335H. Beliau dikenali sebagai al-Ghazali kerana bapanya seorang yang sangat fanatic dengan Imam Ghazali pengarang Ihya’ Ulumuddin.

Beliau telah belajar di Al-Azhar dan menyertai Ikhwan Muslimin, pernah dipenjara dan bekerja sebagai secretariat di Majalah Ad-Dakwah. Beliau telah mengambil jurusan syariah, usuluddin dan pengajian Arab di Univerisiti Al-Azhar dan Universiti Ummul Qura di Mekah. Terlibat dalam perkembangan fakulti Syariah di Universiti Qatar dan menyumbangkan tenaga dalam penubuhan Universiti Amir Abdul Qadir Islamiah di Algeria. Pernah sebagai pemerhati dan wakil bagi Kementerian Hal Ehwal Agama Mesir dan menerima anugerah pingat Raja Faisol kerana sumbangannya kepada Islam.

Beliau seorang berbudi pekerti mulia, sering merendah diri, sopan santun, petah berbicara, menguasai hadith dan kaya dengan ilmu.

Beliau meninggal dunia di Riyadh pada 19 Syawal 1417H dan dikebumikan di perkuburan Baqi’ di Madinah. Beliau telah mengarang lebih 60 judul.

British menjajah Libya

Berlaku pada 11 Syawal 1329H bersamaan 4 Oktober 1911M setelah berakhir penjajahan Itali di Libya. Ia berpunca di atas kelemahan umat Islam di semua tempat kerana dalam masa yang sama Perancis menjajah Tunisia, Algeria dan Morocco sementara British turut menjajah Mesir dan Qubrus. Di sinilah lahirnya tokoh mujahid Umar al-Mukhtar.

Kewafatan Muhammad bin Sirin penulis kitab Tafsir mimpi

Pada 9 Syawal tahun 110H berlaku kewafatan Muhmmad bin Sirin pengarang Kitab al-Ahlam. Beliau dilahirkan pada zaman Khalifah Uthman bin Affan r.a tahun 33H (653M). Beliau dikenali seorang yang zuhud dan warak. Beliau juga seorang pakar hadith yang bijak dan seorang pakar fiqh yang matang. Beliau adalah imam di zamannya dalam bidang ilmu-ilmu agama. Beliau terkenal dalam bidang ilmu, feqh dan ta’bir mimpi. Bapanya dulu adalah budak suruhan Anas bin Malik yang kemudian dimerdekakan. Ibunya bernama Sofiyah yang merupakan budak suruhan Abu Bakar As-Siddiq r.a.

Kelahiran Imam al-Bushairy pengarang Al-Burdah

Beliau ialah Imam Syarafuddin Muhammad al-Bushairy pelopor ayat-ayat pujiaan kepada nabi . Lahir pada 1 Syawal 608H bersamaan 7 Mac 1213M di Mesir di daerah Bani Suef. Beliau memiliki nurani yang halus dan citarasa yang tinggi di dalam pujian kepada nabi.

Beliau pernah bermimpi berjumpa nabi saw yang seolah-olah nabi menghampirinya sambil memakaikan pakaian burdah yang merupakan lambing ketinggian dan kemegahan. Lalu setelah bangun dari tidur beliau begitu riang gembira dan terus mengarang qasidah tentang nabi yang dinamakan Burdah.

Perkahwinan nabi saw dengan Saidatina ‘Aisyah

Perkahwinan ini hasil cadangan Khawlah binti Hakim untuk mengukuhkan hubungan dengan Abu Bakar as-Siddiq dan mengikatnya melalui hubungan musoharah. Lalu nabi telah meminangnya dan melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal.

Kewafatan Hassan al-Hudhaibi

Beliau adalah Mursyid Am Ikhwan Muslimin yang kedua. Beliau lahir di daerah Qalyubi pada Disember 1891M. Pada tanggal 17 Oktober 1951 beliau telah dilantik sebagai Mursyid Am Ikhwan Muslimin selepas pengasas dan Mursyid yang pertama Imam Hassan Al-Banna. Di antara karya beliau ialah Duat la Qudhath, Inna Haza al-Qur’an, Islam wa al-Da’iyyah.

Pada subuh khamis 14 Syawal 1393H bersamaan 11 November 1973 beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Diterjemah dari http://www.ikhwanonline.com/Article.asp?ArtID=24558&SecID=363

Isnin, 6 September 2010

Eid Mubarak Menggamit Kita





Oleh: Dr. Ahmed ‘Assal

Hari Raya Eidul Fitri kini menggamit setelah kita selesai menunaikan kewajipan ibadah puasa dengan perasaan gembira yang dirasai oleh orang yang berpuasa, mendirikan solat dan qiam, bertilawah al-Quran, berzikir dan bertasbih, beriktikaf dan mendapatkan Lailatul Qadr. Firman Allah:

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur..”. (Al-Baqarah: 185)

Tahniah kepada orang-orang yang mendirikan Qiam kerana Allah menyebutkan tentang mereka di dalam firmanNya:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan”. (As-Sajadah: 16)

Tahniah kepada para mukminin yang disibukkan dengan urusan agama mereka dan kewajipan iman mereka. Mereka meyakini bahwa tanggungjawab membela kebenaran memenuhi pemikiran mereka, kebenaran juga menguasai diri dan kehidupan mereka..Mereka terikat dan bergerak dalam ruang lingkup agama mereka dan kebenaran mengikat kehidupan, kewujudan, masa depan, dunia dan akhirat mereka.

Untuk mencapainya kita dapati mereka mengikat seluruh cita-cita, bakat serta potensi diri mereka kepada kebenaran, mengimbangi perjalanan hidup mereka, meninggikan matlamat dan tujuan murni mereka, menjadikan seluruh keasyikan dan keghairahan mereka untuk berbakti kepada agama mereka dengan segenap kekuatan diri dengan motivasi diri, disiplin dan kesederhanaan hidup dan memiliki semua tuntutan jati diri dalam menghadapi tarikan duniawi, keseronokan dan perhiasannya. Mereka tidak rakus dengan keduniaan, menghambakan diri kepada kebendaan, tertipu dengan keseronokannya dan memuja pangkat dan harta.

Eid Mubarak tiba selepas Ramadhan mengajar kita erti istiqamah dan berperaturan. Kita telah saksikan umat Muhammad telah berkumpul di atas agama Allah dan bersatu di atas ketaatan kepada perintahNya di dalam perkataan, perbuatan..sekalipun berhadapan dengan banyak musuh dan cabarannya.

Eidul Fitri datang selepas kita menyahut seruan Allah dan beramal ibadah keranaNya, kita bersabar dan pasrah dengan kuasa dan kehendakNya dengan mengarahkan kepada kebenaran, menolong agama Islam dan meninggikan panjinya serta menjauhkan diri daripada bentuk-bentuk yang memperdayakan dalam kehidupan yang penuh pancaroba. Eid mestilah sampai kepada makna yang sebenar dan agung iaitu hari di mana ruh keimanan berjalan dan hidup di dalam dunia manusia, khasnya kepada pemerintah di mana Islam mengajak mereka supaya berkerja, berjihad, berkorban dan bangkit memulakan jalan perubahan. Ini kerana umat seluruhnya menjadi sasaran musuh sedangkan musuh sentiasa mengawasi dan mengelilingi umat. Kesudahan perjalanan umat bergantung kepada usaha mengembalikan seluruh umat Islam kepada Allah dan agamaNya.

Inilah hari yang kita rasa bahwa ‘kehausan’ yang menimpa umat Arab dan Islam hanya selesai dengan meminum dari sumber Islam yang penuh kesukaran dan liku-liku, barulah hari ini benar-benar sebagai hari Eid (kembali)..Inilah hari pemimpin dan penguasa Islam percaya tentang peri pentingnya pentarbiyahan peribadi dan pembentukan umat, menyediakan generasi di atas asas yang sahih yang berpaksi di atas manhaj rabbani yang tulin, barulah hari ini benar-benar sebagai hari Eidul Fitri (kembali kepada fitrah).

Ketika setiap kita menghabiskan masa dan tenaga untuk melengkapkan keperluan amal Islami dengan mengutamakan dan bekerja untuknya, dan ketika kita mengagihkan tanggungjwab memikul dakwah ke atas semua orang yang berkelayakan dan menugaskan setiap dari kita melaksanakan pekerjaan untuk kebaikan Islam lebih daripada keperluan dirinya, dan ketika kita mengutamakan pertubuhan Islam mengatasi kepentingan peribadi..barulah hari ini benar-benar sebagai hari Eidul Fitri; di mana kita menyumbangkan seluruh kehidupan untuk meneguhkan Islam dan menyempurnakan perlaksanaannya.

Ketika kita melihat nilai-nilai Islam telah meresap di segenap bidang kehidupan bermasyarakat dan termasuk adab dan tingkah laku pelajar, pekerja, tokoh dan pengundi, dan ketika kebaikan ini sampai kepada pemimpin pelbagai lapisan masyarakat, maka hari ini benar-benar sebagai hari Eidul Fitri.

Ketika perjalanan dakwah kita berterusan sekalipun penuh pancaroba dan kita menggunakan pelbagai kreativiti dan teknik baru demi kebaikan dakwah kita dan bangsa kita, dan kita bersedia mengikuti perkembangan semasa dengan penampilan baru dan sesuai dalam menangani isu dan permasalahn yang dihadapi oleh umat dengan syarat barisan pendakwah masih memelihara pegangan, keteguhan dan keutuhannya dengan pimpinan dan kesediaan untuk berkorban dan menggemblingkan tenaga..maka hari ini benar-benar sebagai hari ‘Eidul Fitri.

Ketika agama Allah menduduki tempat tertinggi sedangkan musuh-musuhNya pula gagal dalam memesongkan dari tugas kita serta mengubah akidah kita, dan ketika pendokong kebatilan menanggung kekecewaan untuk meninggikan kebatilan mereka..barulah kita boleh mengingati erti kemenangan dan ‘Eidul Fitri. Semua urusan adalah milik Allah sama ada sebelum atau selepasnya. Firman Allah:

“Dalam beberapa tahun lagi. bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (sebagai) janji yang Sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”. (Ar-Rum: 4-6)

Terjemahan dari http://www.ikhwanonline.com/Article.asp?ArtID=9356&SecID=363

Selasa, 6 Julai 2010

Dalam Waktu Sebulan 117 Siswa di Gaza Telah Hafal 30 Juz Al-Quran


Departemen agama dan waqaf pemerintahan Hamas di jalur Gaza mengatakan bahwa 117 siswa dari kamp penghafal Quran telah selesai secara penuh menghafal 30 Juz Al-Quran kurang dari sebulan, dan menegaskan bahwa para siswa yang bergabung dalam kamp-kamp penghafal Al-Quran telah memperlihatkan prestasi mereka yang membanggakan.

Direktur yang bertanggung dalam kamp penghafalan Al-Quran ini, Imad Dijni dalam sebuah pernyataan tertulisnya kepada pers yang diterima Pusat Informasi Palestina hari Ahad kemarin (4/7) mengatakan bahwa 40 siswa dari kamp penghafal Al-Quran telah selesai menghafal Al-Quran 30 juz kurang dari sebulan, sementara 77 siswa lainnya menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Quran mereka dalam satu bulan dalam periode yang sama.

"308 siswa lain dari tahap keempat kamp penghafal AL-Quran juga sedang dipersiapkan akan menyelesaikan hafalan 30 juz mereka kurang dari sebulan dan ada 44 siswa yang telah menyelesaikan setengah (15 juz) Al-Quran hanya dalam waktu dua minggu," kata Imad Dijni.

Menteri agama dan waqaf pemerintahan Hamas di Gaza, Dr. Thalib Abu Sya'ar menyatakan sangat senang dengan keberhasilan para siswa kamp penghafalan Al-Quran dan ia menegaskan dalam waktu tidak lama akan kembali hadir ribuan hafizh 30 juz Al-Quran di Gaza. Menteri agama dari Hamas ini juga menyerukan kepada para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka agar mencintai Al-Quran, menghafalnya dan mengamalkannya demi untuk kepentingan dunia dan akhirat.(fq/pic)